Mengakrabi Puisi, Mengakrabi Dakwah dengan Hati

Oleh: Moh. Ghufron Cholid*

1743574_10201575576698203_1193580215_n

Moh. Ghufron Cholid (foto: dok. Pribadi)

Kunang-kunang dalam Gelas, membaca judul buku ini saya tertegun. Saya tak henti memikirkan apa yang hendak disampaikan oleh para penyair yang tergabung dalam buku ini? Mengapa pilihan ini menjadi pilihan utama sehingga dijadikan judul buku? Tentu, judul ini dipilih bukan hanya kebetulan. Ada alasan yang dipertimbangkan. Selaku pembaca atau penikmat, saya pun memberanikan diri untuk menjawab rasa penasaran saya.

Kunang-kunang adalah hewan yang begitu indah oleh karena memiliki sinar yang mampu menyisir tiap mata yang menatapnya. Gelas adalah simbol yang tak memiliki isi, gelas hanyalah bejana yang biasa digunakan kalau kita hendak meminum air. Kalau boleh ditarik dalam kehidupan yang lebih luas, kunang-kunang bisa kita misalkan ide cemerlang dan gelas adalah tempat untuk menampung ide tersebut. Ide cemerlang hanya tampak bias keindahannya jika hanya berada dalam gelas atau dalam tekanan.

Mimpi besar takkan pernah menjadi suatu hal yang sangat mengejutkan jika hanya abadi dalam khalayan, tak pernah diterjemahkan dalam kehidupan. Keindahan kunang-kunang tak bisa dinikmati semua kalangan secara bebas jika hanya bermukim dalam gelas. Manusia lebih mulia dari malaikat yang lebih taat beribadah karena manusia memiliki kelebihan yang tak dimiliki malaikat. Manusia bisa menyebutkan nama benda sedangkan malaikat tidak.

Kunang-kunang dalam GelasKunang-kunang dalam gelas bisa juga dimaknai kekuasaan yang dimiliki namun tak dapat dimanfaatkan, hanya sebatas desir angin, datang dan berlalu tanpa meninggalkan jejak.

Saya teringat ucapan Soekarno “berikan saya 10 pemuda maka akan saya goncang dunia”. Betapa ucapan itu telah membuat Soekarno dikenal walau usianya telah tiada. Betapa kata-kata telah menjadi mantra dan mampu menyihir segala pendengarnya. Lalu, apa hubungan ucapan Soekarno dengan kunang-kunang dalam gelas yang saya bahas kali ini? Hubungannya sangat erat sekali, ucapan Soekarno bisa diibaratkan kunang-kunang yang tak lagi bermukim dalam gelas, sehingga bisa lebih mudah mengenalkan keindahan sinar yang dimiliki secara bebas. Ucapan yang menggetarkan batin yang didengungkan Soekarno takkan pernah diketahui jika tak pernah disampaikan atau hanya ditaruh dalam dunia ide, yakni kunang-kunang dalam gelas.

Terlalu asyik berkencan dengan judul tanpa membaca isi yang dikandungnya membuat saya terlalu mabuk dengan tafsiran sendiri. Hal semacam ini, saya kira wajar terjadi dan mungkin juga akan dialami oleh pembaca lain yang berfantasi dengan judul. Apa yang diduga kadang meleset setelah kita mulai memasuki isi yang dikandung dari karya sudah diijinkan dikonsumsi publik. Tak ada salahnya jika berehat sejenak. Menghentikan segala fantasi yang timbul dari judul. Beralih pada isi, barangkali akan menghasilkan makna yang lain, berikut saya posting secara utuh puisi yang kemudian dijadikan judul buku puisi bersama, dengan nama Kunang-kunang dalam Gelas, yang ditulis oleh 20 penyair pilihan JPIN 2013.

Kunang-kunang dalam Gelas
: gadis malam

sajian warna katakata kau pilih merebak
lampu kerlapkerlip pada ruang tiga kali empat
suasana malam minggu masyuk menggugur
aroma parfum bersetubuh dalam hingarbingar
hentakan dangdut menyulut emosi

malam boleh saja bertahta bangga
rembulan gemintang bersanding setia
tapi detak jantungmu memburu etika tak bermoral
hiasan dunia memang selalu menggairahkan
sebatas fana merabaraba kebenaran

anggur merah kau sulang dalam gelas
saling berebut anganangan tak bermakna
nilai kehidupan pun porak poranda
celoteh busuk sudah tak terukur waktu
malammu roboh bersimbah luka

Bumi Ale-Ale, 20 April 2013

Dalam puisinya Wyaz Ibnu Sinentang menangkap isyarat dari kerlapkerlip hidup yang dijumpainya, puisi ini ditujukan pada gadis malam, maka puisi ini pun bisa ditarik benang merah dalam hemat saya selaku pembaca, barangkali yang dimaksud kunang-kunang dalam gelas adalah hidup gadis malam yang terperangkap dalam dunia gemerlap. Dunia yang menyajikan kebahagiaan serba semu. Kebahagian sesat yang bermukim dalam kerlapkerlip hidup, memang sangat memukau dan cendrung membuat orang mengambil jalan pintas.

Puisi yang begitu runut disajikan penyairnya barangkali kreasi dakwah yang coba menyentuh gadis malam secara khusus atau mencubit hati kita secara umum. Barangkali puisi adalah terjemahan dari tiga cara berdakwah yang santun yang diajarkan agama Islam yakni dengan cara hikmah, mauidzatul hasanah dan berdebat dengan cara yang baik. Jadi dalam berdakwah, tak harus menjadi penceramah yang berdakwah dari mimbar ke mimbar, penyair pun bisa berdakwah lewat puisi yang sudah ditulis.

Madura, 14 Februari 2014

*Moh. Ghufron Cholid, penyair muda asal Madura, bergabung dengan komunitas penulis Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)

This entry was posted in Artikel and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s