Ikhtilam

Cerpen: Kurniawan Al Isyhad*

Sumber ilustrasi: google

Sumber ilustrasi: google

Bagai bidadari, begitu anggun kau dengan gaun pengantin itu. Sebuah gaun berwarna putih, bermotif bungabunga yang sengaja kita pesan jauh sebelum hari pernikahan tiba. Gaun model kebaya budaya Jawa dilengkapi kerudung putih bersulam bungabunga memancarkan aura keindahan Bidadari Surga.

Acara demi acara pun kita lalui. Dalam rangkaian seremoni sakral sebagai pengikat jiwa dan raga kita. Ada air mata di sudut jendela jiwa, ketika kita bersyahadat cinta. Berikrar setia, satu untuk selamanya. Abadilah cinta dalam naungan Sakinah Mawaddah Warahmah atas izinNya.

Senja pun mengakhiri usianya, sayang. Mengendap di balkon rumah, seiring langit yang menggerimis dalam ritmis tasbih yang sangat romantis. Wajah langit Pasundan pun kian lebam diselimuti jubah malam. Lampu-lampu mulai menyala. Satupersatu disepanjang jalan dan perumahan, bagaikan kunang-kunang yang hinggap tak beraturan. Namun, tetap indah dipandang dari kejauhan. Dari ketinggian.

Dikejauhan tampak seperti ada ratusan, bahkan ribuan bintang yang berjatuhan di bumi Priangan. Memanjakan mata dengan keindahan yang tiada akan pernah dapat dialihbahasakan oleh ungkapan kata. Pujangga sekali pun. Hanya nafas panjang yang menjadi tanda betapa bersyukurnya kita atas nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dari mulai bangun, sampai bangun lagi. Rasanya seribu sujud pun tak akan mampu menggungguli nikmat Tuhan yang Maha Agung. Dan, anugerah ini kian terasa indah dengan hadirnya Bidadari Manja dihidupku.

Akhirnya kita bersama sayang. Terikat erat dalam sebuah ikatan sakral yang menjerat hasrat dengan saaangat indah! Disaksikan langit, direstui bumi. Bahkan Iblis terbirit ketika birahi kita menjadi suci.” Ucapku pelan seraya menenggelamkan wajah indahmu dalam tatapku.

Wajah yang lebih indah dari lukisan Senyum Monalisa, lebih alami dari alam pedesaan yang tak terjamah tangan-tangan tamak pembangunan, dan lebih murni dari mata air gangga yang mengalir membelah Negeri Pandawa. Lukisan seni sejati Kalam Ilahi yang begitu menggemaskan. Entah tinta jenis apa yang dipergunakan Tuhan ketika melukis wajah ini. Wajah yang mampu mengikat mataku hanya tertuju padamu. Sehingga tak mampu aku menatap selainmu.

Matamu. Ah, matamu sayang, bagai kunang-kunang yang terbang dipermukaan telaga nan tenang. Setiap kedipannya menaburi pekat malam bagai reriak yang dikecup sinar rembulan, penuh nuansa ketentraman.

“Ah ayah..” rajuk manjamu.

O, aku lihat kupu-kupu yang keluar dari belahan merah bibirmu, sayang. Mengepompong dalam otakku, bermetamorfosis menjadi rindu. Hingga membuatku tak mampu untuk tidak merindumu. Apalagi saat kau tersenyum sayang, barisan gigi gingsul itu tampak begitu indah, bak iring-iringan awan dilangit senja menuju kiblat peraduan malam.

“Yah, jangan kau terlalu menyanjungku karena aku hanya wanita lumpuh tanpa bimbinganmu. Aku wanita yang buta tanpa uluran tanganmu. Cintai aku dalam lemah dan kuatku. Rindu aku dalam sibuk dan senggangmu.”  Katamu tersipu, tertunduk malu. Lembut suaramu mengalir laksana angin, menerpa kegersangan jiwa khalifah yang berjalan antara Shafa dan Marwah. Beriktikaf lantas ditelaga Zamzam nan tenang.

“Betapa aku sangat mencintaimu, Istriku.”

                                                                   ***

Tanpa kita sadari, diluar hujan semakin deras. Mengguyur seluruh lekuk hutan bambu yang masih perawan tak terjamah tangantangan jahiliah. Riuhnya lebih indah dari orkestra mozart pada sebuah opera akbar kehidupan. Daun yang menguning pun gugur satu-satu tinggalkan ranting. Meringis, menangis, merindu daun tumbuh kembali pada cabang dahan yang kian menua dimakan sejarah peradaban cinta. Buluh Perindu pun berlagu, ketika kita melebur diri menjadi satu.

Kita terdiam. Saling menatap. Begitu dalam, begitu mesra, begitu cinta, begitu sayang dan begitu bergetar ketika jemari mulai berthawaf pada lingkaran cinta. Begitu erat, begitu hangat, begitu membakar jiwa ketika kita semakin dekat, semakin rapat tak berhijab.

Mataku terpejam, begitu pula matamu. Berdansa diiringi alunan nada-nada cinta yang semakin membuat kita terhanyut semakin jauh, semakin larut. Namun semakin teduh, semakin indah ketika kau berkata: ”Pintu kebahagiaan telah terbuka,Yah!” Katamu seraya mengangkat wajah, menatapku mesra.

“Tapi, Nda!” seruku.

Kebahagiaan seperti apa yang kau katakan lebih segar dari mereguk air Zamzam dalam perjalanan antara Shafa dan Marwah itu, sehingga membuat jiwa kita teduh, bagaikan daun-daun bermandikan embun subuh?”

Lantas katamu juga “Kita ibarat sepasang kupu-kupu yang melayang terbang bebas di taman surga. Lalu hinggap pada bunga-bunganya dan menghisap manis madu penantian yang selama ini mengurung jiwa!”

“Sekarang kita bebas,Yah!” sambungmu.

“Bebas dari pengharaman atas kehalalan yang kita tebas dengan ikrar Syahadat Cinta. Kini tak ada  lagi yang dapat memisahkan kita, aku milikmu begitupun kamu, hanya milikku.”

“Bagaimana dengan maut?” tanyakku.

“Maut hanyalah pintu,Yah. Pintu yang akan menuntun kita menuju keabadian rindu.” Jawabmu tanpa ragu.

Akupun membisu. Meresapi bait demi bait syair melankolis yang tumbuh dari sepasang bibir ranum penuh syukur dalam hidup. Nafasmu, nafasku, kian berpacu memugar rindu yang selama ini terhijab.

“Nda..”

“Sssttt..”

Matamu berbinar. Kau tempelkan lentik telunjukmu di bibirku yang bergetar memburu rindu. Bergumam ditengah gejolak hasrat dalam dada yang kian membara.

Matamu. Ya, mata itu tak mampu ku menatapnya.Teduh, namun menyilaukan. Seperti embun di ujung daun yang terbias sinar surya. Tatapmu menyiratkan kerinduan yang begitu dalam, kerinduan yang selama ini terkurung dalam ruang tunggu disudut  paling dungu.

“Nda..,

Ayah!”

Lagi-lagi kau memenggal suaraku dengan suaramu, yang kian lembut serta mata yang kian sayu. Namun, kian jelas terdengar getaran nada hasrat berintonasi birahi dalam setiap kedipan genitnya.

Lalu kau menuntunku, memasuki sebuah ruangan dibalik pintu itu. Sebuah pintu dengan ukiran seni cinta dan kesetiaan yang di dalamnya terdapat sebuah ruangan dengan ornamen putih biru  yang selama ini ku persiapkan untukmu, untuk kita membunuh rindu.

Ah, Nda!” seruku yang kian tak menentu. Berbaur dengan amukan rindu dalam kalbu.

Namun lagi-lagi kau bungkam tanyaku. Senyum manjamu terasa hangat menyirami wajahku, lebih hangat dari sinar surya yang menyirami bumi di pagi hari, namun begitu menyejukan dahagaku. Erat pelukmu bagai cengkraman anaconda yang melilit mangsanya. Aku tak mampu mengimbangiya, apalagi menghindarinya. Pikiranku melayang. Otakku tak mampu lagi mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hanya rasa yang bersuara tanpa kata. Desahan nafas seolah berlomba beradu keindahan menari-nari dalam telingaku sangat erotis. Setiap bulu di tubuhku seolah berdiri, berdansa mengiringi orkestra hasrat yang kian menggelora, lebih dasyat dari deburan ombak, lebih membakar dari titik api dalam pusat bumi. Namun, lebih indah dari apapun yang dikatakan indah.

“Ayolah,Yah. Lebih baik kita nikmati saja malam kebersamaan kita ini. Izinkan aku menyerahkan apa yang terbaik dalam diri ini hanya padamu, duhai imamku.”  Suaramu terdengar sangat merdu di antara nafas ornamen kamar yang kian redup.

Perlahan, kau seperti menjaga jarak, lantas berhenti beberapa inci dari tubuhku yang mulai  berkeringat dingin. Mataku seolah telah kau ikat dengan tubuhmu, tak ada yang lebih indah darimu dan tak mampu ku menatap selain dirimu, malam itu.

Mataku seakan menatap hijaunya alam yang masih perawan di tengah gersang peradaban sahara yang membentang. Gunung-gunung itu terlihat begitu angkuh ketika alam mulai tanggalkan gaun malam. Bahkan, ada bayangan diriku dalam telaga itu, melambaikan tangan mengajakku menenggelamkan diri ke dalam kesegaranya.

Aku pun kian terhanyut kedalam. Semakin dalam hingga menyentuh dasar. Tubuhku serasa ringan, melayang, terbang, dan……..Gubraakkk..!!  

Aku terjatuh dari ranjang ketika terdengar adzan Subuh berkumandang.*

Kurniawan al isyhadKurniawan Al Isyhad, lahir di Cimahi, 22 Januari 1983. Tinggal di Kota Cimahi. Bergiat di komunitas penulis nasional Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN). Menulis cerpen dan puisi. Beberapa puisinya masuk dalam antologi puisi Islami “Selayang Pesan Penghambaan” (Pustaka Nusantara & JPIN, 2012). Novelnya yang sudah terbit “Jejak-jejak Hujan” (Penerbit Oase Qalbu, 2013). Cerpen karyanya berjudul Ikhtilam ini pernah dimuat di Majalah Gradasi edisi edisi VI/No. 11/April 2013 dan memenangkan Event Cerpen Pilihan JPIN Tahun 2013.

This entry was posted in Karya Anggota. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s