6 Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (Foto: dok. JPIN).

Badiatul Muchlisin Asti (Foto: dok. JPIN).

Menulis itu ternyata memang tidak gampang. Buktinya, tidak semua orang mampu menjadi seorang penulis yang piawai mengorganisasi kata sehingga terangkai menjadi kalimat yang komunikatif. Apalagi mengorganisasi kalimat sehingga teruntai ide-ide segar yang menggerakkan.

Seperti yang dikatakan Eka Budianta dalam bukunya Menggebrak Dunia Mengarang, bahwa meskipun setiap hari melihat langit, belum tentu kita dapat melukiskan sebagus-bagusnya dalam kata.

Saya sering memberikan tamsil, bahwa belajar menulis itu seperti belajar naik sepeda. Ketika awal-awal belajar naik sepeda, terasa sulit bukan main. Jatuh-bangun berkali-kali. Tetapi setelah bisa, naik sepeda terasa mudah. Terkadang sulit membayangkan, duduk di atas sedel sepeda bisa dilakukan dengan tenang tanpa terjatuh, dan bahkan dapat mengayuh dengan santai atau cepat.

Begitu pula belajar menulis. Ketika awal-awal menulis, terasa susah bukan main. Bagaimana mengawalinya, bagaimana menyusun kalimat yang “hidup”, apa yang ditulis dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan lain yang berkecamuk. Tapi setelah bisa, menulis terasa begitu mudah dan indah. Kata-kata mengalir dengan mudahnya, sehingga terangkai menjadi rangkaian kalimat yang menawan. Karenanya, kunci bisa terampil menulis atau merangkai kata memang terletak pada kontinuitas latihan (sehari-hari).

Selain itu, ada enam jurus yang bisa dilakukan agar seseorang semakin terampil menulis dan piawai merangkai kata. Berikut ini enam jurus yang bisa dipraktekkan.

Pertama, punya tradisi membaca buku.

Pater Bolsius SJ, seperti dikutip Wishnubroto Widarso dalam bukunya Pengalaman Menulis Buku Non-Fiksi pernah berucap, “If you don’t read, you don’t write”. Jikalau engkau tak (punya kebiasaan) membaca, engkau tak bisa menulis.

Jose Daniel Parera dalam Konggres Bahasa ke-5 di Jakarta mengatakan, banyak-banyaklah Anda membaca, biarkan ia mengendap dalam benak Anda, suatu saat pemahaman Anda semakin luas, dan akan tiba saatnya Anda harus menulis.

Hernowo, dalam bukunya Mengikat Makna menyatakan, ibarat Anda buang hajat besar lantaran kekenyangan, seseorang akan gampang mengungkapkan apa saja yang diingininya lewat tulisan. Jadi, membacalah sebanyak-banyaknya, suatu ketika hasrat menulis akan timbul pada diri Anda secara alami. Dan pengetahuan yang luas yang Anda dapatkan dari membaca akan memudahkan Anda untuk menuangkannya ke dalam tulisan.

Kedua, membaca alam dan peristiwa kehidupan.

Membaca tak semata-mata membaca buku, tapi juga membaca alam. Fenomena alam akan menjadi inspirasi sebagai bahan tulisan. Termasuk, membaca alam adalah membaca peristiwa kehidupan. Di panggung kehidupan ini ada banyak peristiwa yang bisa digali untuk bahan penulisan.

Ketiga, mempunyai blog.

Ibarat pelari, perlu jogging harian. Penulis juga begitu, memerlukan media untuk menuliskan ide-ide yang bekerjapan dan lalu lalang setiap harinya. Maka, buku harian (saat ini bisa digantikan oleh blog/website pribadi) merupakan media yang tepat untuk itu. Milikilah buku harian, atau buatlah blog di internet atau buatlah akun di citizen media seperti Kompasiana, lalu tulislah informasi yang Anda peroleh dan ide-ide Anda setiap hari. Hal itu akan berguna untuk mengasah ketrampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata.

Keempat, mencintai bahasa.

Bahasa adalah alat komunikasi. Dari bahasa, indikasi dari tingkat intelektualitas seseorang akan tampak. Apakah dia seorang yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi atau tidak. Kekayaan kosakata-lah yang membedakaannya. Karenanya, cintailah bahasa. Buka-bukalah kamus Bahasa Indonesia. Ternyata ada banyak kata yang bagus yang dapat kita gunakan dalam tulisan kita, tapi selama ini kita belum mengetahuinya karena itu kita tidak menggunakannya.

Kelima, hobi meneliti.

Minat meneliti merupakan sarana yang akan semakin meningkatkan kedalaman dan luasnya jangkauan tulisan kita. Ia akan menjadi inspirasi yang hebat untuk bahan tulisan kita. Menurut Eka Budianta, sebelum menulis Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, YB Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup Maritim di sana. Begitu juga novel Para Priyayi Umar Kayam, yang ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Ke-enam, suka diskusi.

Diskusi merupakan ajang tukar pendapat. Dalam diskusi akan banyak pendapat dari luar diri kita yang dapat menimbulkan letikan ide atau inspirasi untuk bahan tulisan kita.

Itulah enam jurus yang bisa dicoba, untuk mengasah ketrampilan menulis dan melejitkan kepiawaian kita dalam merangkai kata atau kalimat. Ingatlan selalu ‘petuah’ Prof. Dr. Floyd G. Arpan yang mengatakan, “Kecakapan menulis tak akan begitu saja jatuh dari langit. Tapi kecakapan itu baru bisa dicapai dengan jalan berlatih”.

Selamat berlatih menulis! Semoga bermanfaat. *

This entry was posted in Tips Menulis. Bookmark the permalink.

2 Responses to 6 Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata

  1. Mujiono says:

    Terima kasih pencerahannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s