JPIN Isi Diklat Jurnalistik MA Sunniyah Selo: “Penulis Tak Harus Berlatar Belakang Pendidikan Tinggi”

Junaidi Abdul Munif (tengah) saat menyampaikan materi. (Foto: Dok. JPIN)

Junaidi Abdul Munif (tengah) saat menyampaikan materi. (Foto: Dok. JPIN)

“Ingin menjadi penulis tanpa membaca itu ibarat ingin kenyang tapi tidak mau makan,” kata Junaidi Abdul Munif, pengurus Dept. Jurnalistik dan Penulisan Kreatif JPIN Pusat di awal-awal menyampaikan materi dalam Diklat Jurnalistik yang diadakan oleh Madrasah Aliyah (MA) Sunniyah, Selo, Tawangharjo, Kab. Grobogan (Jateng), hari Minggu kemarin (24/2/2013).

Menurut Junaidi, banyak sekali manfaat yang bisa dipetik oleh seseorang dari aktivitas membaca. “Secara psikologis, membaca akan meningkatkan kepercayaan diri kita, dan secara mental akan menjadikannya terbiasa bersikap kritis sehingga tidak mudah ikut arus tren yang berkembang,” tutur Junaidi yang juga Direktur el-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Junaidi menceritakan, dirinya terdorong untuk menjadi penulis juga setelah memiliki kesukaan membaca. Junaidi mulai menulis sejak duduk di bangku SMA dengan menulis puisi dan cerpen di sejumlah koran dan tabloid remaja. Saat ini tulisannya lebih banyak berupa tulisan non-fiksi seperti artikel opini, esai, dan resensi buku dan dimuat di banyak media lokal dan nasional seperti Suara Merdeka, Media Indonesia, Kompas, Seputar Indonesia (Sindo), Koran Jakarta, Gatra, Lampung Post, dan lain sebagainya.

“Ini contoh tulisan saya yang dimuat Suara Merdeka minggu lalu,” tutur Junaidi sambil memperlihatkan koran yang memuat tulisannya berjudul Lumbung Pangan yang Melenyap. “Tulisan ini adalah hasil pembacaan saya terhadap kebiasaan ayah saya yang petani dan masyarakat petani pada umumnya,” tutur Junaidi lebih lanjut.

Peluang Sebagai Penulis

Sementara itu Ketua JPIN Pusat Badiatul Muchlisin Asti sebelum mengisi materi, menanyakan ke peserta cita-cita mereka satu per satu. Jawabannya beragam, ada yang ingin jadi guru, dokter, pengusaha, musisi, dan ada juga yang ingin menjadi….penulis. “Seperti bapak,” tutur peserta yang bercita-cita menjadi penulis.

Setelah semua peserta menyebutkan cita-citanya, Badiatul Muchlisin Asti menyatakan bahwa memiliki cita-cita itu penting. “Cita-cita yang mengkristal menjadi impian akan menjadi energi yang menggerakkan kita untuk senantiasa bersemangat meraihnya,” tutur penulis sejumlah buku-buku bertema Islami itu.

Badiatul Muchlisin Asti menceritakan, sejak keci ia telah ditradisikan membaca oleh ibunya. Baik membaca majalah maupun buku. Dari membaca itulah ia sering terinspirasi untuk menulis. Saat itu ibunya yang seorang PNS memang berlangganan majalah Krida (terbitan Korpri Jawa Tengah) dan majalah Penjebar Semangat (majalah berbahasa Jawa).

“Saat membaca majalah, tiba-tiba sering terlintas di benak saya yang masih SD itu keinginan untuk menulis dan bermimpi suatu ketika tulisan saya akan dimuat di koran atau majalah. Dan bertahun kemudian, mimpi itu pun terwujud,” tuturnya.

“Tulisan pertama saya dimuat di majalah Rindang (terbitan Departemen Agama Prop. Jawa Tengah). Tahukah adik-adik bagaimana perasaaan saya saat menerima informasi tulisan pertama saya itu dimuat di majalah? Kaki saya mendadak  seperti tidak lagi menjejak tanah. Saya seperti tiba-tiba melayang ke angkasa saking senangnya,” tutur Badiatul yang disambut senyum dan tawa peserta.

Cara Mengirim Tulisan dan Meningkatkan Minat Baca

Para pembicara berpose dengan sebagian peserta diklat. (Foto: dok. JPIN)

Para pembicara berpose dengan sebagian peserta diklat. (Foto: dok. JPIN)

Acara yang dipandu oleh Ketua JPIN Grobogan Muhammad Adib itu berlangsung khidmad. Peserta menyimak materi pembicara secara serius, namun santai karena sesekali pembicara mengeluarkan joke-joke segar yang menjadikan peserta ketawa.

Saat dibuka sesi tanya jawab, mula-mula peserta malu-malu untuk bertanya. Namun setelah ada yang tunjuk tangan, yang lainnya pun tergerak untuk unjuk tangan. Sejumlah pertanyaan pun terlontar, antara lain: bagaimana cara mengirim tulisan ke koran? Bagaimana menghilangkan rasa enggan membaca? Bagaimana mengembangkan imajinasi? Juga, apakah seorang penulis harus berlatar belakang pendidikan tinggi atau berpendidikan sastra? Dan lain-lain.

“Cara mengirim tulisan ke koran sangat mudah, apalagi sekarang sudah ada fasilitas internet, sehingga pengiriman lebih cepat dilakukan melalui e-mail,” jawab Junaidi Abdul Munif.

Saat menjawab bagaimana menghilangkan rasa enggan membaca, Badiatul menyatakan, yang pertama dilakukan adalah merubah persepsi. Menurutnya, dalam laci memori kita telah tersimpan persepsi terhadap suatu objek yang dibentuk oleh diri kita sedemikian rupa.

“Kalau saya sebutkan orang berpakaian doreng hijau, laci memori kita akan segera membayangkan dia seorang tentara. Kalau saya menyebut perempuan shalihah, laci memori kita akan membayangkan seorang muslimah berjilbab, dan sebagainya. Nah, saat saya sebut kata buku, maka yang terbayang dilaci memori kita adalah sesuatu yang membosankan dan tidak menarik. Itulah maka kita lalu enggan untuk membaca. Beda kalau menonton sinetron karena telah kita persepsikan sebagai sesuatu yang menarik sehingga kita dapat menikmatinya,” jelas Badiatul.

Karena itu, pertama yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca adalah dengan mengubah persepsi. “Persepsikan buku sebagai sesuatu yang akan membuat kita cerdas, membuat kita kaya pengetahuan, membuat hidup kita lebih bermakna, dan persepsi-persepsi yang positif lainnya. Internalisasikan serangkaian persepsi itu dalam laci memori kita, sehingga secara tak sadar nanti kita akan tergerak untuk tidak lagi enggan membaca,” tutur Badiatul.

Lalu haruskah seorang penulis berlatar belakang pendidikan tinggi atau pendidikan sastra? Kedua pembicara sepakat mengatakan tidak. “Banyak penulis ternama yang bukan lulusan perguruan tinggi dan bukan pula berlatar belakang sastra,” tutur Badiatul Muchlisin Asti.*

 

This entry was posted in Info JPIN Daerah. Bookmark the permalink.

One Response to JPIN Isi Diklat Jurnalistik MA Sunniyah Selo: “Penulis Tak Harus Berlatar Belakang Pendidikan Tinggi”

  1. Guru Muda says:

    Modal pertama menjadi penulis adalah minat membaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s