Kampanye Membaca & Menulis JPIN Grobogan: Dari Mengubah Paradigma sampai Tips Asyik Membaca

Kampanye membaca dan Menulis: Dari kiri Misbahul Munir, M.Si, Badiatul Muchlisin Asti, dan Junaidi Abdul Munif. (Foto: dok. JPIN Grobogan)

Kampanye membaca dan Menulis: Dari kiri Misbahul Munir, M.Si, Badiatul Muchlisin Asti, dan Junaidi Abdul Munif. (Foto: dok. JPIN Grobogan)

Membaca, apalagi menulis, merupakan aktivitas yang mulai langka. Generasi muda lebih memilih melihat atau menonton daripada membaca. Membaca itu tidak asyik, katanya. Lebih asyik menonton televisi misalnya. Sementara tayangan-tayangan televisi mulai tidak ramah dengan pembentukan mental generasi muda. Budaya glamour, hedonis, dan serba instan merasuki remaja melalui sinema-sinema elektronika. Akhirnya yang banyak terjadi adalah generasi yang manja, dengan ciri utama: malas berpikir dan ogah berkarya.

Berangkat dari kenyataan miris itu, Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN) Cabang Grobogan, menggelar kegiatan Kampanye Membaca dan Menulis yang dihelat pada Minggu, 9 Desember 2012 bertempat di gedung Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gubug. Acara diikuti sejumlah pelajar, mahasiswa, santri, guru, tokoh masyarakat, dan pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Kampanye menghadirkan pembicara Ketua Umum JPIN Pusat Badiatul Muchlisin Asti dan Junaidi Abdul Munif dari Departemen Jurnalistik dan Penulisan Kreatif JPIN Pusat. Dialog dipandu oleh Misbahul Munir, M.Si, Direktur PKBM Basmala Gubug.

Kenangan Merintis di Dunia Kepenulisan

Suasana Dialog Kampanye Membaca dan Menulis JPIN Grobogan. (Foto: Dok. JPIN Grobogan)

Suasana Dialog Kampanye Membaca dan Menulis JPIN Grobogan. (Foto: Dok. JPIN Grobogan)

Junaidi Abdul Munif yang mendapat kesempatan berbicara pertama, mengawali pemaparannya dengan bercerita tentang awal-awal dirinya menekuni dunia kepenulisan saat dirinya masih berstatus pelajar SMA dan nyantri di pondok pesantren.

“Mas Asti (panggilan akrab Junaidi kepada Badiatul Muchlisin Asti) ini adalah guru saya. Beliaulah yang mengenalkan saya pada dunia kata dan membimbing saya menulis. Selalu saya kenang, pertengahan tahun 2005, setiap Jum’at pagi saya datang ke rumahnya bersama beberapa teman dan beliau membebaskan saya menggunakan komputernya untuk mengetik naskah. Siangnya saya dijamu makan siang dan pulangnya masih diantar ke pondok. Begitu seterusnya dalam jangka waktu yang lama…” tutur lelaki yang kini sangat produktif menulis di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Sindo, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Lampung Pos, Gatra, dan lain sebagainya.

“Saya juga dibebaskan membaca buku-buku koleksinya,” cerita Junaidi lebih lanjut. “Rupanya dari sinilah saya bisa memetik hasilnya bisa menjadi penulis seperti sekarang,” tuturnya kemudian.

Karena itulah Junaidi mendorong kepada masyarakat, terutama generasi muda, untuk membudayakan tradisi membaca. Apalagi perintah membaca merupakan wahyu pertama Al-Qur’an. “Sehingga bisalah saya katakan, seorang muslim yang enggan dan tidak mau membaca berarti mengkhianati perintah pertama Al-Qur’an,” tutur lelaki yang kini menjabat Direktur El-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Membaca Kunci Peradaban

Badiatul Muchlisin Asti yang mendapat kesempatan kedua, dalam paparannya menyatakan, tradisi membaca memiliki pengaruh positif dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang ingin maju, berkembang, percaya diri, kaya pengetahuan, kaya perspektif, dan memiliki makna atau nilai plus dalam kehidupannya, maka kuncinya adalah dengan membaca.

Bahkan wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad juga berupa perintah membaca. Itu artinya, membaca merupakan kunci bagi berkembangnya suatu kehidupan yang lebih baik, lebih maju, dan lebih berkualitas.

“Semakin tinggi tradisi membaca masyarakat, maka makin tinggi pula peradaban masyarakat itu. Begitu pun sebaliknya” tutur Ketua Umum JPIN Pusat yang juga CEO Penerbit Oase Qalbu Group.

Mengatasi Malas Membaca

Pembicara berpose bersama dengan beberapa panitia setelah acara. (Foto dok. JPIN Grobogan)

Pembicara berpose bersama dengan beberapa panitia setelah acara. (Foto dok. JPIN Grobogan)

Tentang bagaimana cara menumbuhkan minat membaca di kalangan generasi muda, Badiatul Muchlisin Asti menyatakan, hal yang paling mendasar yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma membaca. Sejauh ini, menurut pria berkaca mata minus ini, membaca masih dianggap sebagai aktivitas yang tidak menarik, bahkan membosankan. Sehingga membaca buku pun menjadi malas dan enggan.

Menurut Badiatul Muchlisin Asti, anggapan atau paradigma itu harus diubah, yakni dengan cara menanamkan paradigma “baru” membaca, yakni membaca sebagai sesuatu aktivitas yang mengasyikkan, menarik, dan membuat pelakunya menjadi cerdas, kaya wawasan, kaya perspektif, kaya pengetahuan, serta menambah peluang untuk maju dalam kehidupan.

Paradigma itu harus dinternalisasi terus-menerus dalam hati dan pikiran, sehingga membaca buku yang awalnya tidak menarik menjadi menarik, yang awalnya membosankan menjadi mengasyikkan, karena dengan membaca buku akan menjadikan diri semakin cerdas, percaya diri, kaya wawasan, serta memiliki kearifan dalam berpikir dan bersikap.

Tips Asyik Membaca

Dalam kesempatan itu, Badiatul yang telah menulis lebih dari 40 buku itu memaparkan tips asyik membaca. Yakni dengan gaya SAVI. SAVI itu kepanjangan dari Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual.

Yang pertama membaca secara Somatis. Saat membaca, cobalah dibuat serileks mungkin, sesantai mungkin. “Membaca tidak harus dengan duduk tepekur serius kayak orang yang akan menghadapi ujian,” kata Badiatul Muchlisin Asti.

“Rileks aja. Boleh juga membaca sambil berdiri atau sambil jalan-jalan. Yang penting rileks. Atau setelah membaca 4 sampai 10 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala, setelah itu membaca lagi,” tutur Badiatul Muchlisin Asti.

Yang kedua membaca secara Auditori. “Saat menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna saat membaca, cobalah menyuarakan atau menjaharkan apa yang sedang dibaca. Dengan cara ini, telinga akan membantu otak mencerna makna kalimat itu,” tutur Badiatul Muchlisin Asti.

Yang ketiga, membaca secara Visual. “Cobalah saat sedang membaca suatu gagasan atau suatu konsep, bayangkanlah, kalau perlu gambarlah, tulislah. Ini juga akan mempercepat proses pemahaman terhadap apa yang sedang dibaca,” tutur Badiatul Muchlisin Asti.

Yang keempat atau yang terakhir adalah membaca secara intelektual. “Setelah membaca, berhentilah sejenak untuk merenungkan apa telah dibaca barusan. Kalau perlu catatlah hal-hal penting dari hasil pembacaan halaman demi halaman buku tadi. Dengan demikian, akan semakin menguatkan pemahaman terhadap apa yang telah dibaca,” tutur Badiatul Muchlisin Asti.

Roadshow

Sementara itu Ketua JPIN Cabang Grobogan Muhammad Adib, S.Pd.I menyatakan, acara Kampanye Membaca dan Menulis ini akan diadakan secara roadshow di beberapa titik di wilayah Kabupaten Grobogan. Setelah di Gubug, dalam waktu dekat akan diadakan di Godong, Purwodadi, dan seterusnya.

“Diharapkan, acara ini bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan minat baca dan menulis di kalangan masyarakat di Kabupaten Grobogan,” tutur penulis buku Di Sebuah Nisan Tua itu.* (red)

This entry was posted in Info JPIN Daerah. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kampanye Membaca & Menulis JPIN Grobogan: Dari Mengubah Paradigma sampai Tips Asyik Membaca

  1. Roni Yusron says:

    Sukses buat JPIN…
    Ada beberapa tips yang akan saya praktikkan untuk anak-anak Rumah Baca yang sedang dirintis…
    http://rumahbacaanaking.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s