Sepucuk Surat yang Menempel di Atas Peti

Oleh: Masrufah YH

Ilustrasi: Internet

Ilustrasi: Internet

Kubuka sebuah surat dari istriku tercinta. Entah siapa yang menaruhnya di sini. Tak mungkin istriku. Aku sangat mencintai istriku. Apalagi dia. Tentu cintanya tak diragukan lagi. Selama mengarungi bahtera rumah tangga, dia tak pernah selingkuh. Jangankan itu. Empat tahun kami pacaran dan lima bulan kami bertunangan, tak pernah ada nama lelaki lain di hatinya. Ya… begitulah istriku. Ia wanita paling setia yang ada di dunia ini.

***

Sebelumnya maafkan aku, pujaan hatiku. Berniat menulis ini sebenarnya aku tak mau. Tapi, aku tetap harus menulisnya. Aku yang selalu mencintaimu, dan tiada henti mendoakanmu agar selalu semakin dekat dengan-Nya. Awalnya memang sebuah keraguan mangkir di sini. Tepatnya dalam lubuk hatiku. Setiap saat hanya ada ragu. Masih saja ragu. Maafkan aku yang tak pernah bisa menerimamu apa adanya. Hari itu, tepat tanggal sebelas bulan Agustus tahun 2006, kutelah sah menjadi milikmu, bukan hanya namaku, tapi juga tubuhku.

Saat kutulis ini bertepatan dengan sengaja kutempelkan sebuah tulisan tanganku di kulkas kuno kita.

DAFTAR AKTIVITAS BABU

Bangun tidur jam 3 pagi

Mandi dan mencuci beras jam 3 lewat 3 menit

Shalat subuh dan menanak nasi di magic com jam 3 lewat 10 menit

Nyapu rumah jam setengah 4

Cuci piring jam 4 kurang seperempat

Masak lauk jam 4 pas

Nyuci baju dan mandi di sungai lekko jam setengah enam

Berangkat ngajar jam setengah 7

Pulang ngajar jam setengah 1 siang

Shalat dhuhur jam 1 kurang seperempat

Shalat ashar langsung dijama’

Berangkat ngajar lagi jam setengah 3 sore

Pulang ngajar jam 5 sore

Tidur malam jam 10

Jam 3 pagi kamu baru pulang dan aku bangun

 

Kamu tahu kenapa begitu?

Aku rasanya di akad sebagai babumu bukan istrimu.

Awalnya semuanya berjalan lancar. Suamiku terkasih selalu membantuku dalam segala hal. Pekerjaan rumah, bahkan sampai ngoreksikan tugas muridku. Tapi entah kenapa, sekitar lima bulan kita menikah, kau mulai berlagak seperti raja dan aku babumu.

Ya… kau pulang hanya untuk meminta hak batinmu padaku. Sakit rasanya. Semua terasa sakit. Saat kau baca surat yang sengaja kutulis dengan tinta warna biru dengan bintik-bintik keemasan, aku hanya ingin mengungkapkan betapa damainya hatiku setelah kuungkap semua. Dan sedikit kecewanya aku terhadap perilakumu.

Aku masih ingat cerita-ceritamu itu. Tiga tahun kau dibuat tertawa dan bahagia olehnya. Kusebut dia Indonesiamu. Aku yang tahu dan pura-pura tak tahu tentang hal itu. Ternyata, bagaimana pun diriku. Aku yang galak. Aku yang jahat. Aku yang buruk di matamu. Tetap saja kau pilih aku sebagai istrimu. Atau mungkin karena karakter yang menempel dalam bajuku ini, kau jadikan aku babu. Kau harus marah padaku. Kertas putih ini sebagai tanda pengakuanku padamu.

Kali ini aku harus berkata lagi, kau bagai manusia yang sedingin es batu. Aku istrimu. Aku juga butuh kau. Bukan sekedar teman tidur. Aku sakit…. Sayang kala itu, tapi kau, tapi kau pergi untuk urusan-urusan tak penting, seakan aku masih bisa berdansa dengan riang. Aku salah? Kau datang padaku hanya sekedar untuk memelukku, menciumku, menggelayuti tubuhku hingga berpeluh.

Untuk itukah cinta kita tumbuh? Untuk itukah pernikahan kita digelar? Aku juga punya jantung, yang bisa terpacu cepat sekali kala hati hancur. Aku hanya bisa memberi apa yang aku bisa. Aku butuh kau sebagai sahabat mungkin, lelaki mungkin, ibu mungkin. Dulu aku pikir kau segalanya bagiku. Hari ini, saat kurangkai kata-kata ini, aku hanya bisa bilang “sesal”.

Kau tahu meski kiai berkata, kau pasti diangkat. Tapi harus kutunggu berapa tahun lagi, nafkahmu itu. Ya… pekerjaanmu keren memang. Seragam negeri dan batik itu yang membuat setiap orang bilang, kau seperti pak camat. Aku cukup paham dengan model tubuhmu. Kau tahu sayang, aku bisa apa. Telah kukatakan, seharusnya ini dan itu. Tapi kau tetap saja memilih bekerja di sana menjadi staf UPTD tanpa bayaran. Lokasi yang jauh dari istana kita. Kusebut istana, karena itu pemberian orang tuaku dari hasil menjual sawah satu-satunya. Sekedar uang bensin pun tak ada sepeser pun. Bukankah aku sudah bilang, sogokan itu terlalu mahal, apalagi feelingku sangat kuat tak enaknya. Dua belas juta rupiah bukan hal yang mudah dirogoh dari kantong papa mertua. Kesombongannya hanya bisa membuat beliau sok. Sok kaya. Sok punya. Sok segalanya. Ya papa tukang selingkuhan itu. Beliau yang sok tahu seakan-akan haji itu bukan calo. Kalau emang dibutuhkan staf, pasti gak usah bayar.

Papa itu dulu yang jamin belanja kita per harinya 20 ribu, mana? Mana? Itu hanya omong besar aja. Sekarang beliau bilang “sabar”. Sabar apanya kataku dalam hati. Beliau berkata lagi, “Aku tanggung semua, bensin dan rokokmu”. Kalau bensin, rokokmu ditanggung papa, lalu makan kita?. Ya sudahlah.

Sekarang kau boleh marah padaku. Karena kau sama saja. Sama kayak papa. Sok. Sok gengsian. Sok baik. Sok peduli. Dan sok banyak uang. Orang ngutang, tak bayar, kau biarkan. Padahal kau tahu kita sedang butuh uang. Sampai ketika aku menulis ini lagi, kau tetap sama dan utang itu pun belum lunas.

Aku lega bahkan bisa bernafas setelah semua yang membuat hatiku bagai puzzle, bisa tertuangkan. Meski hanya dalam bentuk tulisan. Bagiku pantas aku menulis ini. Entah apa kata orang. Kau tahu, aku sangat mengerti keadaanku yang terlalu buruk di hadapanmu. Sama dengan buruknya perilakumu setelah kita mendiami istana mungil ini.

Kau sendiri tahu, kakakku itu suka iri, makanya aku wanti-wanti menegurmu untuk tidak ini dan itu. Aku tak tahu, bagaimana anggapanmu tentangku. Mungkin bagimu, aku adalah orang yang super kejam, keras kepala, pemarah, monster, dan raksasa yang berbisa. Aku tahu kekuranganku. Mata sebelahku tak bisa melihat, itulah salah satu alasan aku mempertahankanmu. Bagiku, pria yang mana yang mau pada perempuan yang sebelah matanya tak bisa melihat.

Hari ini tepat tanggal 11 bulan 11 dan tahun 2011, di mana setiap orang berebut untuk menjalani prosesi pernikahan, bahkan petugas KUA menyetop orang-orang yang mau mendaftar karena saking banyaknya orang minta diakad, aku dan kamu bertengkar hebat. Lima bulan kita menikah, nyaris saja kau menamparku. Aku telah katakan banyak hal hingga kau berdasa muka. Kau lempar asbak—yang berbentuk mangkok kecil yang kudapat dari pernikahan temanku, populernya disebut souvenir—hingga hancur. Sama dengan hancurnya otakku yang pusing berputar memikirkanmu.

Saat kau terima surat ini mungkin, kau hanya bisa marah sendiri. Ya…kau dendam. Kesal. Benci. Mana kutahu. Aku hanya tahu, mungkin aku dipecut malaikat karena suka memelototimu. Karena suka acuh. Dan sering menolak waktu diajak berhubungan intim. Tentu aku menolak. Bagaimana aku bisa merasakan nikmatnya bercinta, jika kau hanya tahu memuncratkan sperma. Yach….kau tak tahu caranya bermesraan. Kau hanya bisa meminta tapi tak mau memberi. Aku lelah. Selamat tinggal.

Kau boleh membenciku setelah baca ini. Tak masalah, biar sekalian malaikat menyiksaku. Memang itu sudah salahku. Oh….aku tak ingin kau kasihani. Sudah cukup aku berpura-pura sakit, kuanggap agar kau peduli. Tapi nyatanya percuma. Aku banyak dosa. Apalagi padamu. Ada yang lupa, aku memang pencemburu. Kau tahu kenapa, selama kita tunangan dan aku melanjutkan studi di Malang, kau asyik pacaran. Tentu setelah bilang dia suka tertawa dan tak pernah marah, aku sudah merasa tak pantas untukmu. Cukup. Cukup. Semua ini semakin membuatku berdarah-darah.

Selamat tinggal, sampaikan maafku untuk papa dan mama. Tapi bukan untukmu. Setelah ini kuakhiri, aku pun berpikir, mungkinkah kelak aku masih bisa masuk surga? Dan kita bertemu di sana menjadi keluarga yang bahagia?

***

Betapa kejamnya aku. Tapi mengapa dirimu meninggalkanku dengan cara tak adil. Lalu siapa yang kau suruh untuk meletakkan surat ini di atas petimu? Kenapa tidak dia berikan sendiri?

Tapi kau kejam, istriku. Kau boleh mencemoohku, tapi bukan papa. Aku coba tangisi mayatmu. Mungkin itu bisa menghapus dosaku. Kupikir dulu kau selalu bicara tentang kematian, dan kuanggap itu biasa saja. Setiap orang pasti mati. Kenapa kau mati dengan meninggalkan sepucuk surat penuh luka ini? Bahkan kau tak takut dosa. Memang aku mencintaimu. Mencintai bukan menyayangi. Kuanggap semua pekerjaan rumah, urusan istri. Bukankah aku lebih lelah? Seharian bekerja di kantor yang cukup jauh. Dan kau hanya mengajar dan memasak, juga mencuci. Nyetrika. Nyapu. Dan mencuci piring. Hanya itu kan? Apa kau lelah?

Kini bisakah kutemukan istri yang lebih segalanya darimu? Bahkan dia, selingkuhanku, tak kan sama denganmu. Tapi, dia baik. Cerdas. Cantik. Dan lemah lembut. Dan kau sebaliknya.

***

 *) Masrufah YH, anggota komunitas penulis nasional Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), tinggal di Bondowoso, Jawa Timur.

This entry was posted in Karya Anggota. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sepucuk Surat yang Menempel di Atas Peti

  1. Sang Perantau Kata-kata says:

    Kok lebih banyak konflik bathin (internalnya) tidak mengeksplor secara keseluruhan. Seharus ada dialog antara aku dan si suaminya itu lebih menguatkan. Maaf kalo masukannya tidak berkenan silakan hapus aja ya ^_^

    • adminjpin says:

      Trims masukannya, mengapa harus dihapus? Justru masukan seperti itu akan menjadi masukan berharga bagi penulisnya agar bisa menulis lebih baik lagi di masa seleanjutnya…justru kami tunggu kritik, penilaian, masukan, saran, apresiasi, dll dari karya2 anggota JPIN yg kami upload di sini…ayo jangan ragu kasih masukan atau kritik pedas sekalipun…trima kasih ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s