Tuminah

Oleh: Kurniawan Al Isyhad

“Gila, ini semua buatku gila,” teriak Tuminah pada dirinya sendiri. Tuminah tak lagi mengenali dirinya kini. Tuminah yang pemalu dan lugu. Tuminah yang dulu selalu berkerudung kemana pun melangkah, kini telanjang. Telanjang di tengah hiruk pikuk kota Causeway Bay.

”Siapa yang menjadikan aku seperti ini, siapaaa..!?” batinnya kian menjerit ketika tampak sosok bayangan seorang wanita berusia tiga puluh tahunan dengan rambut merah dan bertindik hidung, serta mengenakan celana jeans robek-robek sedang tersenyum menatapnya.

”Siapa kau? Aku tak mengenalmu?!” sambil berteriak, Tuminah pun menangis di depan cermin, sendiri.

Hatinya kian terasa sunyi. Tak ada jawaban atas semua tanya. Semua diam. Semua bungkam. Hanya terdengar gema suara hatinya sendiri yang bergema pada dinding-dinding beton yang terasa makin menyekapnya. Memenjarakan jiwanya dalam kesepian dan kerinduan yang entah untuk siapa. Orang tuanya, anaknya, ataukah pada suaminya yang telah tiga tahun meninggal? Atau mungkin keriduan pada nafsu birahinya sendiri. Dia tak tahu dan tak ada yang tahu.

Perlahan Tuminah mengangkat wajahnya. Di tatapnya wajah dalam cermin di depanya itu dengan seksama. Sepasang mata yang bening, meskipun telah sedikit keriput di bagian bawah, masih tampak indah. Lalu tatapannya berpindah pada hidung yang mancung yang berada tepat di atas bibirnya yang mungil dan seksi. Bibir inilah yang sering di eksploitasi kekasihnya yang berwarga negara asing itu, dan dia pun sangat bahagia serta menikmati ketika kekasih gelapnya itu mencium dan mengulum bibirnya. Hingga lunaslah kesepian yang selama ini menekan jiwanya.

Namun kedua tangan yang bertumpu pada wastafel itu terlihat gemetar, ketika terlihat anaknya Rifki sedang menangis dalam gendongan ibunya. Terdengar jelas, Rifki memanggil manggilnya sambil terus menangis. Perlahan dibelainya wajah anaknya dalam cermin itu. Akan tetapi, belum sempat tangannya menyentuh bayangan anaknya itu, tiba-tiba ibunya menatap dengan pandangan menyala seakan ingin membakarnya. Tuminah menghentikan tangannya. Dia  tak mampu melawan tatapan yang seolah melarangnya untuk menyentuh wajah anaknya itu. Dia pun tak mampu menghindar ketika tatapan itu menggulungnya laksana api yang melebur kayu bakar dengan panasnya.

Tatapan itu terlalu tajam dan panas, namun ada setetes air di sudutnya. Tatapan itu yang selalu mengikutinya ke mana pun dia berjalan. Tatapan itu mengintip pada cermin, pada kaca mobil, pada pohon yang berada di taman, bahkan tatapan itu terlihat jelas memandang dari wajah kekasih gelapnya, ketika mereka tengah mengumbar hasrat mengubur kesepian jiwa. Semakin dia menghindari tatapan itu. Semakin panas pandangan itu menjilati tubuh setengah bugilnya.

***

“Ada apa denganmu, Tuminah?!” tatapan itu tiba-tiba bertanya.

Tuminah tersentak. Namun sebelum sempat menjawab, tiba-tiba satu sosok laki-laki muncul di belakangnya. Sosok laki-laki yang dulu sangat dicintainya. Laki-laki yang tiga tahun lalu meninggal dunia akibat kecelakaan, terjatuh dari sebuah atap gedung karena ingin menafkahinya. Laki-laki itu juga yang telah memberikanya seorang putra yang sangat dia cintai. Laki-laki itu adalah suaminya yang kini sedang menatapnya dengan pandangan iba. Namun, Tuminah merasakan ada siratan rasa sakit yang sangat pada tatapannya itu. Tampak jelas ada air bening yang menggenang di sudut mata laki-laki itu.

”Maass…,” Tuminah menatap bayangan laki-laki itu. Ingin sekali Tuminah memeluk laki-laki yang sangat dicintainya itu. Namun, kakinya terasa berat, tak mampu dia gerakkan untuk melangkah. Tuminah hanya mampu memandang laki-laki yang sekarang berada di depannya dengan penuh kerinduan. Kerinduan yang selama tiga tahun tak tersampaikan.

“Kau telah mengkhianatiku Tuminah!” bayangan suaminya berkata dengan suara yang lebih keras dan tajam, seolah sengaja ingin memecahkan gendang telinganya.

“Maafkan aku, mas,” Tuminah coba bersuara di antara tangisnya yang kian menjadi-jadi.

Tatapan laki-laki yang tadinya sayu itu, kini berubah menjadi tatapan yang menyala penuh amarah. Hingga Tuminah tak mampu beradu pandang dengannya. Hati Tuminah terasa dicabik-cabik. Sakit sekali. Bukan, bukan oleh tatapan laki-laki itu. Melainkan sakit hati karena ulahnya sendiri.

“Kau pun telah menelantarkan anak kita, buah cinta kita!” kini suara laki-laki itu bagaikan petir yang langsung menyambar nuraninya. Hingga membuat Tuminah lemas tak berdaya. Kakinya tak kuasa lagi untuk berdiri. Akhirnya Tuminah pun jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin itu.

Jiwa Tuminah makin terkoyak ketika tangisan anak dalam cermin itu kian keras di sertai tatapan ibunya yang kian membara dengan air mata yang kian deras. Tuminah tak mampu menjawab semua tanya itu.

”Hentikan, hentikaan…!” Tuminah berteriak sambil menjambak rambutnya.

“Ha ha ha..” tiba tiba sosok laki-laki lain muncul dengan tawanya.

”Kau..kau yang telah membuatku seperti ini!”teriak Tuminah pada bayangan itu yang ternyata adalah kekasih gelapnya.

”Kau yang telah membuatku hamil dan meninggalkan aku setelah kau hisap habis keringatku..!” Tuminah memaki bayangan kekasih gelapnya itu. Sambil berusaha untuk bangkit menghampirinya, namun usahanya itu sia-sia belaka, dia tak sanggup untuk bangkit. Jiwa dan tubuhnya sudah telanjur lelah menerima kepahitan yang kini tengah dialaminya

“Ha ha ha…tak usah kau menyalahkan orang lain atas semua kebodohanmu, Tuminah!” sambung bayangan kekasihnya itu. Yang makin membuat jiwa Tuminah tergoncang hebat.

“Kau sendirilah yang dengan rela menyerahkan tubuh dan uangmu padaku,” sambungnya.

“Ya, aku bodoh. Aku memang bodooohhh….” Tuminah berteriak memaki dirinya sendiri.

***

“Ada apa denganmu, Tuminah?” terdengar lagi suara tanya belum terjawab itu. Kali ini entah dari siapa. Semakin lama suara itu makin riuh. Semua benda yang berada di sekitarnya seolah ikut bersuara, disertai tangis dan tatapan penuh amarah dari ibunya yang makin membuat jiwa Tuminah tertekan.

Tuminah coba pejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya, namun suara itu tetap terdengar, bahkan makin keras, seolah-olah suara itu memang berada dalam kepalanya. Tuminah semakin tak mampu mengendalikan dirinya. Jantungnya kian memburu degup. Sementara kepalanya terasa mengembang seolah mau pecah karena tak mampu lagi menampung semua pertanyaan yang sedang menghakiminya.

“Hentikan, tolong hentikan semua ini!” teriakan Tuminah makin keras sambil menjambak rambutnya. Namun, suara-suara itu makin bergemuruh, tak memberi kesempatan padanya untuk menjawab. Karena pertanyaan itu adalah suara jiwanya sendiri yang meminjam bayangan orang-orang yang dicintainya dan tubuhnya sendiri.

Perlahan, dengan susah payah Tuminah mencoba bangkit. Hingga dia pun mampu berdiri lagi. Dipandanginya sejenak wajah-wajah dalam cermin itu. Lantas diambilnya botol kecil yang ada di atas wastafel yang memang telah disiapkannya sedari tadi. Dia telah memutuskan bahwa mati adalah jalan terbaik baginya daripada dia harus menanggung aib dan melihat keluarganya tersiksa akibat kelakuanya di perantauan.

Dunia serasa berputar. Langit turun ke bumi menindihnya. Suara-suara dalam kepalanya berangsur menghilang dan musnah, seiring jatuhnya Tuminah tergeletak tanpa daya di lantai kamar mandi yang dingin. Sementara dari selangkanganya tampak mengucur melalui pahanya darah kehitaman akibat dari janin yang mati sebelum terlahir.

Suasana dalam kamar mandi itu kini sepi. Sepi sekali. Hanya terdengar nafas air yang menetes dari kran yang tidak tertutup rapat. Airnya menghanyutkan sebagian darah ke lubang di sudut kamar mandi itu. Sedang di pojok lain, tampak bayangan perempuan berusia tiga puluh tahunan menatap penuh heran pada jasad yang tergeletak tenang di lantai kamar mandi itu. Dia tampak makin larut dalam kesedihan ketika melihat ada darah yang mengalir dari jasad yang tergeletak itu. Perlahan dihampirinya jasad itu dan berkata, ”Ada apa denganmu, Tuminah?”

Pelan sekali suaranya. Seolah hanya untuk didengar dirinya sendiri.

*Kurniawan Al Isyhad bergiat di komunitas penulis nasional Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), tinggal di Kota Cimahi.

This entry was posted in Karya Anggota. Bookmark the permalink.

5 Responses to Tuminah

  1. Roni Yusron says:

    keren Kang Acil, banyak Tuminah-Tuminah lain yang mengalami kepahitan hidup. Iman dan ilmu menjadi pokok cara menyikapinya. Banyak pesan moral yang disampaikan dari cerita Tuminah ini…😀
    Terus berkarya, Sob..

  2. Diani says:

    Kang Acil bagus ini cerpennya? Katanya mau coba kirim ke Hong Kong. Ini pasti tembus di Hong Kong nih🙂

  3. arthaamalia says:

    Kisah seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Selama ini bila kita menuliskan hal yang ‘baik’ saja, maka pembaca tidak akan tahu realita. Masyarakat Indonesia kini terbelenggu dengan ekonomi yang terpuruk, serta kurangnya perlindungan pada wanita. Wanita digunakan sebagai obyek, kalau terjadi apa-apa dengan wanita selalu disebut salah si wanita sendiri. Padahal wanita mau berkorban untuk siapapun yang dia sayang, tidak peduli balasan apa yang nantinya ia dapat. Saat membaca ini, saya terharu. Salahkah bila wanita menginginkan kebahagiaannya sendiri? Tidak, tetapi jalannya yang salah. Lelaki ini, kekasih gelapnya, bukannya melindungi malah menguras habis ‘harta’ Tuminah. Ckck, lelaki macam apa itu? Semoga para pembaca dapat memetik hikmahnya. Wanita dapat lebih ‘kuat’, dan lelaki bisa lebih bertanggung jawab juga ‘jantan’. jangan jadi penegcut yang setelah manis sepah dibuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s