Menepis Kemanjaan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (Foto: dok. JPIN).

Tahun 1994, di awal-awal menekuni dunia kepenulisan, saya merasakan situasi jiwa yang sangat militan. Ketika itu belum musim komputer. Apalagi internet. Sebuah artikel saja harus melalui proses yang cukup melelahkan. Awalnya, artikel saya tulis tangan di selembar kertas. Kemudian baru saya ketik dengan mesin ketik manual.

Karena saat itu belum punya mesin ketik sendiri, saat di pesantren saya biasa pinjam mesin ketik kantor. Sedang saat di rumah, saya pinjam mesin ketik milik kantor balai desa kampung saya. Biasanya, selepas Isya’, saya menemui penjaga balai desa yang kebetulan masih memiliki hubungan kerabat. Mesin ketik itu saya bawa pulang ke rumah.

Lembur-lah saya malam itu mengetik artikel-artikel yang sudah saya tulis tangan sebelumnya. Bunyi “ctak ctak ctak” menjadi simponi indah yang menemani saya malam itu. Simponi indah, yang akan selalu saya kenang seumur hidup saya. Ya, seumur hidup saya.

Paginya, sebelum pukul 7, saya sudah harus mengembalikan mesin ketik itu ke kantor balai desa. Sudah selesai? Belum dong. Siangnya saya masih harus ke kantor pos. Naik sepeda onthel atau sepeda motor butut milik ayah. Menempuh perjalanan dua kilo meter. Hanya satu tujuan, mengirim artikel-artikel yang sudah saya masukkan serapi mungkin ke dalam amplop yang telah saya bubuhi alamat redaksi yang saya tuju. Begitulah, saya menikmati proses kepenulisan saya ketika itu.

Saat berbagi ilmu menulis buku secara lesehan di sebuah rumah makan. (Foto: dok. pribadi).

Bertahun kemudian, perkembangan teknologi berkembang begitu pesat. Dimulai dari komputer, yang menjadikan saya tak lagi harus bersusah payah menulis tangan, sebelum artikel saya ketik. Kemudian ada lagi internet yang menjadikan saya tak lagi bersusah payah mengirimkan artikel-artikel ke kantor pos. Cukup di rumah saja, saya ketik artikel saya di komputer. Tak perlu terlebih dulu mengonsep, karena kalau ada kesalahan tulis, nggak perlu menghapusnya pakai tipe x, tapi tinggal delete saja. Setelah artikel selesai diketik, tinggal klik saja, artikel itu sudah nyampai ke redaksi dalam hitungan detik.

Subhanallah, teknologi telah melipat waktu dan dunia. Teknologi telah menjadikan semuanya menjadi sangat cepat dan teramat mudah. Ia memangkas sebuah proses. Ini menjadi berkah buat saya yang pernah melewati masa-masa “sulit”. Harusnya ini juga menjadi “berkah” bagi semuanya.

Namun ternyata, seringkali saya melihat sisi lain yang paradoks. Saya merasakan generasi yang lahir di era teknologi ini justru malah menjelma menjadi “generasi manja”. Mereka yang harusnya lebih bisa memanfaatkan teknologi untuk mempersembahkan produktivitas berkarya, justru dilanda kemanjaan akut. Ogah berkarya, malas berpikir, kecuali memanfaatkan teknologi sekedar untuk keisengan atau hiburan semata.

Saya sendiri seringkali tak luput dari kemanjaan serupa. Tiba-tiba dilanda kemalasan menulis. Bila sudah begitu, saya biasanya berusaha menepisnya dengan cara mengenang ulama-ulama zaman dahulu yang sungguh memiliki produktivitas berkarya yang luar biasa, di tengah keterbatasan. Ada imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan sebagainya. Produktivitas karya mereka jauh lebih banyak dari bilangan usianya.

Padahal ketika itu belum ada listrik, belum ada komputer (apalagi laptop). Mereka menulis dengan tulisan tangan, dengan penerangan lentera seadanya. Tapi mereka menulis dengan segenap kesungguhan dan kerja keras, semata untuk mendokumentasikan ilmu, guna diwariskan bagi generasi sesudahnya. Spirit inilah yang saya sebut sebagai spiritual writing. Spirit yang akan senantiasa mengobarkan semangat berkarya.

Semoga bermanfaat. Selamat berkarya!*

This entry was posted in Writing Motivation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s