Biar Nulis Jadi Berasa Lewat Jalan Tol

Oleh: Anggrahini KD (Dept. Jurnalistik dan Creative Writing JPIN Pusat)

Anggrahini Kusuma Dewi (Foto: dok. Pribadi)

Pengin lancar menulis tapi merasa kering ide? Atau, pernah bikin tulisan, tapi seret di perjalanan? Well, kalau proses menulis diibaratkan sebagai aktivitas makan, maka sariawan, sakit gigi, atau panas dalam, tentu bisa jadi hambatan yang bikin nggak selera. Kalau sudah begitu, nggak bisa nggak, hambatan-hambatan itu kudu dicari obatnya dong!

Sama halnya dengan menulis. Saat merasa kering ide, mentok di tengah perjalanan, susah memulai, atau malah malas berkepanjangan, solusi kudu segera dicari. Eniwei, hambatan-hambatan itu bisa muncul dari diri sendiri (hambatan internal) en dari lingkungan di luar diri (hambatan eksternal). So, sebelum mencari obatnya, yuk mari, diagnosa dulu tipe hambatan yang sering menghalangi kelancaran proses menulis kita.

*Hambatan Internal

  • Moody
  • Malas
  • Merasa nggak berbakat

*Hambatan Eksternal

  • Kurang bahan
  • Miskin diksi
  • Masalah tata bahasa

Lalu, bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan itu? Jangan khawatir, jika di dunia ini ada 1000 macam hambatan, maka akan lahir 2000 solusi. Artinya, semua kebuntuan dalam menulis ini pasti bakal ketemu solusi kalau mau berusaha memecahkannya. Apakah kedengaran klise? Hahaha…

Pertama, kalau yang dihadapi adalah kendala internal, maka yang obat yang direkomendasikan adalah motivasi. What? Motivasi? Yup, orang yang moody, malas, apalagi merasa nggak berbakat pasti punya masalah dengan kurangnya self motivation.

Terus, gimana cara memotivasi diri sendiri? Aw..aw..aw.. sama kayak benang-benang fibrin yang bisa membantu mengikat jaringan tubuh yang terluka, sebenarnya tubuh punya mekanisme untuk menyembuhkan diri sendiri lho!

Anggrahini KD (berdiri) saat mengisi sebuah Seminar Jurnalistik Remaja (Foto: istimewa)

Kalau kita termasuk golongan mahluk moody alias bergantung dengan mood, minimal kita kudu bisa mengenal golden hour yang kita punya. Hmm, apa itu golden hour? Bolehlah dibilang era keemasan alias saat-saat yang paling ideal untuk menulis. Kapan? Ah, itu subjektif sekaliiiii..

Ada tipe orang yang mood menulisnya lancar kayak air terjun Niagara gara-gara sedih ditinggal pacar. Begitu patah hati, malah bisa bikin 100 puisi dalam semalam. Ada juga yang ide-idenya moncer saat pagi hari sebelum matahari terbit. Atau, malah ada yang kudu sedia makanan segambreng biar mood-nya muncul. Intinya, kenali hal-hal yang kita sukai. Meski patah hati kadang-kadang bikin produktif, tapi umumnya orang akan jauh lebih semangat kalau hati sedang gembira. So, saat hendak menulis, bersiap-siaplah untuk bersenang-senang.

Terus, kalau masih malas nulis, gimana dong? Wah, malas adalah sumber penyakit yang sangat berbahaya. Punya ide bagus tapi malas menuliskan, ya akhirnya nggak bakal jadi tulisan, kan? Nah, gimana cara membasmi rasa malas? It’s so easy! Tumbuhkan iming-iming, atau angan-angan.

Maksudnya, sadarilah kalau menulis itu punya manfaat bagi diri kita. Sama kayak kalau kita lagi makan. Kalau nggak makan, perut jadi lapar. Kalau nggak nulis, tangan bisa pegal-pegal. Kalau makan enak, hati ikut senang. Kalau rajin nulis, ada kepuasan tersendiri yang bikin kita makin semangat.

Eniwei, tahu nggak, menulis itu punya banyak manfaat. Minimal 4E; Eksistensi, Ekspresi, Edukasi, juga Ekonomi. Eksistensi bikin para penulis bisa ngeksis lewat tulisan. Selain itu, bisa jadi media penyaluran alias berekspresi; entah menyalurkan rasa sakit hati ditinggal pacar, jengkel gara-gara kena marah guru, atau malah jadi media protes atas peraturan sekolah yang memberatkan.

Nah, lalu manfaat edukasinya apaan dong? Banyaklah! Misalnya, artikel kesehatan bikin kita tahu kalau sirsak ternyata bisa menangkal kanker. Terus, manfaat ekonominya apaan? Hihihi, kasih tahu nggak yaaa…

Oh, kembali ke laptop. Hambatan internal lain yang nggak kalah bahaya adalah merasa nggak punya bakat. Pfiuh, penjelasannya singkat aja deh. Thomas Alva Edison pernah bilang, sukses itu 1% bakat, 99% keringat. So, kalau merasa nggak berbakat, itu nggak terlalu berpengaruh. Cuma 1% kok. 99%-nya masih bisa diusahakan dengan menumbuhkan kecintaan en keminatan menulis.

***

Kedua, gimana kalau hambatan yang lebih sering dialami adalah hambatan eksternal? Itu juga banyak obatnya kok! Apa kasusnya? Kurang bahan? Nggak menguasai EYD? atau koleksi kosakatanya minim? Sebenarnya jawabannya cuma satu: Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Kekurangan bahan dalam menulis, bisa disiasati dengan banyak mencari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Perpustakaan, toko buku, atau “Si Mbah” Google punya banyak bahan yang bisa diserap. Begitu pun kalau kosakata yang dipunyai ternyata masih minim. Solusinya adalah banyak mambaca! Bahkan, baca kamus atau tesaurus pun bisa bikin kita makin kaya kosakata lho!

Terus, kalau nggak menguasai EYD? Aduh, ini mah jawabannya sama. Membaca. Baca dong, buku-buku EYD en tata bahasa. Atau, telatenlah baca koran atau majalah. Perhatikan, istilah asing yang terpaksa masuk ke dalam tulisan pasti dicetak miring. Setelah titik atau koma, pasti ada spasi.

Nah, hal-hal yang sepertinya kecil itu juga tetap membantu. Kalau keliru, bisa mengganggu. So, coba lebih banyak membaca, mengamati, dan memahami, ya. Selamat berkarya!*

This entry was posted in Tips Menulis. Bookmark the permalink.

3 Responses to Biar Nulis Jadi Berasa Lewat Jalan Tol

  1. Kereeen…😀 terimakasih JPIN…

  2. Roni Yusron says:

    Mantap tipsnya, mbak KD…😀

  3. nice🙂 just wanna say that i’d try🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s