Guru-guru Imajiner

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (foto: dok. JPIN)

Saat ini, wadah kepenulisan menjamur, baik yang berskala lokal maupun nasional. Berbagai pelatihan penulisan juga banyak digelar. Jadi, siapa pun yang ingin menempa diri di bidang kepenulisan, tinggal memasuki wadah yang ada, atau mengikuti berbagai even pelatihan atau workshop menulis yang banyak digelar. Banyak pilihan untuk mengupgrade motivasi dan tips menulis saat ini.

Berbeda saat saya memasuki dunia kepenulisan pada pertengahan tahun 1990-an lalu. Nyaris belum ada wadah kepenulisan, dan masih sangat jarang ada even pelatihan atau workshop menulis. Kalaupun ada, tidak seramai sekarang.

Ketika itu, untuk memunculkan motivasi menulis dan mencari informasi serta pengetahuan tentang dunia kepenulisan, saya mendapatkannya secara otodidak saja. Namun justru di situlah letak romantikanya.

Otodidak menjadikan saya merasa lebih memilki militansi menulis yang tinggi. Motivasi menulis saya memang terpancar dari dalam diri saya sendiri, bukan hasil komporan (baca: motivasi) orang lain. Sedang motivasi yang berasal dari dalam diri, efeknya berlipat kali lebih dahsyat dari motivasi yang muncul dari orang lain.

Di awal-awal menulis, saya banyak belajar dari tulisan-tulisan yang sudah ada, baik yang termuat di koran, majalah, maupun buku. Dari situlah saya belajar cara menulis yang baik dan belajar tentang seni menata gagasan melalui tulisan.

Ada beberapa penulis ketika itu yang karya-karyanya saya jadikan acuan dalam seni menata gagasan melalui tulisan. Agar tulisan saya mengalir bak air pegunungan yang jernih dan segar, renyah serenyah keripik singkong, juga enak dibaca dan perlu kayak tagline-nya Tempo, saya banyak belajar dari tulisan-tulisan mereka.

Islam Alternatif dan Islam Aktual, dua buku yang menginspirasi tentang seni menata gagasan melalui tulisan. (foto: istimewa).

Karena itulah, dalam lanskap kepenulisan saya, mereka saya nobatkan sebagai “guru-guru imajiner” saya. Meski saya tidak pernah bertemu langsung dengan mereka, kecuali sebagian di antara mereka, namun tulisan-tulisan mereka telah berjasa memberikan learning (pembelajaran) bagi saya.

Cendekiawan muslim Jalaludin Rahmat atau yang akrab disapa Kang Jalal adalah salah satu “guru imajiner” saya. Dua buah buku karyanya, Islam Alternatif dan Islam Aktual, juga buku karyanya yang lain semisal Psikologi Komunikasi, benar-benar memikat saya. Cara beliau menata gagasan melalui tulisan, dengan pilihan diksi yang indah dan memikat, sehingga nikmat ketika dibaca, dengan penataan logika yang mudah dipahami, sehingga menyentuh hati ketika dibaca, menjadi inspirasi penting bagi saya.

Begitulah, ternyata tak harus mengikuti even kepenulisan untuk belajar menulis, sahabat JPIN juga bisa belajar langsung dari tulisan-tulisan yang sudah ada. Salam kreatif, semoga bermanfaat!*

This entry was posted in Writing Motivation. Bookmark the permalink.

2 Responses to Guru-guru Imajiner

  1. al_isyhad says:

    siip…ilmu saya bertambah terus..

  2. taufiqbanua says:

    semoga bisa berproses u menjadi seorang penulis…amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s