Tradisi Membaca

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (Foto: dok. JPIN)

Anugerah terindah saya dikaruniai seorang ibu yang telah sukses menanamkan tradisi membaca dalam diri saya. Saat saya kecil, ibu saya yang berprofesi PNS, guru agama di sebuah Sekolah Dasar, selalu membawakan buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolah tempat ia mengajar. Setelah buku-buku itu tandas saya baca, ibu mengembalikannya dan membawakan kembali buku-buku yang lain. Dan seperti biasa, saya selalu antusias dan bergairah untuk melahapnya.

Tanpa terasa, tradisi membaca itu terus merasuk ke dalam kehidupan saya. Tahun 1993, saat saya untuk pertama kalinya menginjak pesantren, alhamdulillah, sesuatu yang saya beli pertama kali adalah sebuah buku tebal berjudul Ihya’ Ulumuddin. Itulah awal saya menjadi kutu buku, eh bukan, lebih tepatnya predator buku. Saya betul-betul ‘gila’ membaca. Hampir setiap bulan, saya berusaha menyisihkan uang saku untuk membeli buku (dan koran).

Saat banyak teman-teman santri saya di pesantren yang menjadi “ahli hisap” (baca: gemar merokok), alhamdulillah saya dijauhkan oleh Allah dari kegemaran itu. Buku-lah yang lebih memikat saya. Saat teman-teman santri saya satu kamar keluar untuk shoping atau sekedar JJS ke Matahari (nama pusat perbelanjaan di Semarang) saat pesantren libur, saya lebih memilih tenggelam dengan membaca buku di kamar pondok. Tradisi itulah yang kemudian secara alamiah dan instingtif menuntun saya untuk menulis. Tidak ada yang ngompori, apalagi menuntun saya. Semuanya berjalan alamiah.

Mengisi bedah buku di sebuah sekolah. Tradisi membaca mengantarkan saya menjadi seorang penulis buku, (Foto: dok, pribadi).

Ceritanya, tahun 1994, seusai mengikuti seminar di TBRS Semarang, saya mendapatkan ide menulis. Saya tulis ide itu, lalu saya guratkan dalam sebuah artikel. Saya tulis tangan. Habis itu saya ketik dengan mesin ketik hasil pinjaman (ketika itu belum ada komputer). Asal tahu, itu juga untuk pertama kalinya saya memegang mesin ketik. Hampir seharian saya mengetik artikel yang panjangnya hanya 3 lembar. Itu pun hasil ketikannya tidak rapi. Tapi, tak apalah. Dengan pe-de, keesokan harinya artikel itu saya kirim ke majalah via pos.

Tunggu punya tunggu, subhanallah, artikel saya itu dimuat. Di majalah Rindang (terbitan Depag Jawa Tengah), edisi Juni 1994. Nama saya terpampang jelas sebagai penulisnya. Bangga, senang, bahagia, haru, dan sejenisnya, tiba-tiba menjadi “tamu istimewa” yang sukses “mengobrak-abrik” hati saya. Mendadak saya seperti tidak menjejak tanah, sekonyong melayang ke angkasa sesaat setelah saya mengetahui artikel saya dimuat (jiah hehe…). Seminggu kemudian, saya mendapatkan wesel pos, honor tulisan tersebut yang jumlahnya cukup fantastis, melebihi nominal jatah makan saya selama sebulan di pesantren. Hmmm….

Sahabat JPIN sekalian yang budiman, itulah sepenggal cerita pengalaman saya saat pertama kali tulisan saya dimuat sekitar delapan belas tahun yang lalu dan menjadi tonggak karir kepenulisan saya. Tradisi membacalah ternyata yang menjadi rahasia saya bisa bertahan dan istiqamah menjadi seorang penulis hingga kini. Karena itu, ketika kamu ingin menjadi seorang penulis, maka awalilah dengan membangun tradisi membaca yang kuat dalam hidupmu.

Salam kreatif, semoga bermanfaat!*

This entry was posted in Writing Motivation. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tradisi Membaca

  1. Roni Yusron says:

    subhanallah, ihya ulumudin? Karya monumental karangan Al Ghazali yang juga akan saya kupas untuk ”JEJAK PENA”😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s