Menikmati Proses

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (foto: dok. JPIN)

Saat SMA, saya sempat mengoleksi dan membaca secara tandas buku berjudul “Proses Kreatif” yang dieditori oleh Pamusuk Eneste. Sayang, buku itu dipinjam teman, entah siapa, dan tidak kembali sampai kini. Buku itu berisi kisah-kisah perjalanan proses kreatif pengarang-pengarang besar, salah satunya Arswendo Atmowiloto. Seingat saya, sebagaimana diceritakan di buku itu, Arswendo pertama kali menulis artikel dalam rangka untuk memikat cewek yang ditaksirnya (ehm…).

Alhasil, artikel pertamanya yang berbahasa Jawa itu berhasil dimuat di sebuah majalah berbahasa Jawa di Solo. Buru-buru Arswendo menunjukkan karyanya ke cewek yang ditaksirnya itu. Dengan Pe-de, Arswendo menunjukkan majalah yang memuat tulisannya. “Hai, ini tulisan karyaku lo. Ini kisah tentang kita berdua hehe..” kira-kira begitu kata Arswendo sambil menunjukkan artikelnya yang dimuat di majalah.

Malangnya, cewek yang ditaksir Arswendo itu nggak percaya, kalau artikel yang dimuat di majalah itu adalah karya Arswendo Atmowiloto. Apa pasal? Di artikel itu, Arswendo pakai nama samaran alias nama pena. Meski diyakinkan, cewek itu tetap nggak percaya kalau artikel itu karyanya. Kecewa beratlah Arswendo.

Tulisan bisa dimuat di koran kadang harus melalui proses panjang. (ilustrasi: dok. JPIN)

Pelampiasannya, ia lalu kirim naskah ke majalah lagi. Kali ini pakai nama asli, biar cewek yg ditaksirnya percaya. Namun, malang, artikelnya kali ini justru tidak dimuat. Kirim lagi, nggak dimuat lagi. Kirim lagi, nggak dimuat lagi. Kirim lagi, nggak dimuat lagi. Sampai ada 30-an naskahnya yang ditolak. Namun, Arswendo pantang menyerah. Kalau gak salah, di artikel ke 33, barulah tulisannya dimuat. Apa kata Arswendo setelah jadi penulis besar? “Andai saat itu saya putus asa, mungkin saya tidak akan pernah menjadi pengarang seperti sekarang.”

Nah, sahabat JPIN yang budiman. Ketika saat ini kamu merasa masih sebagai penulis pemula dan tengah berjibaku dengan penolakan-penolakan tulisan kamu di media massa, nikmatilah “proses” itu. Itu memang proses yang musti dilalui oleh seorang calon penulis besar.

Ketahuilah, seorang penulis tidak tiba-tiba memiliki kemampuan menulis yang bagus dan berkualitas, melainkan melalui proses perjalanan yang terkadang sangat panjang dan berliku. Karena itu, ketika membaca tulisan atau artikel bagus di koran yang ditulis oleh seseorang, jangan langsung mengira bahwa tulisan itu tulisan pertama penulisnya. Siapa tahu itu adalah tulisan ketigapuluh, keempatpuluh, atau kelimapuluh yang baru dimuat. Sedang sebelumnya ditolak.

Camkan ini sahabat, tugas bagi seseorang yang bercita-cita menjadi seorang penulis adalah bagaimana membangun habit menulis. Sehingga menulis menjadi bagian dari kehidupannya, dan ia mau meluangkan waktunya setiap hari untuk menulis. Masalah apakah karya itu kemudian akan diterbitkan atau tidak, biarlah waktu yang menjawabnya. Nikmati saja proses untuk menjadi seorang penulis.

Salam kreatif. Semoga bermanfaat!*

This entry was posted in Writing Motivation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s